Seruan Kredit Belum Pulih, Ini Dampaknya

permintaan-kredit-belum-pulih-ini-dampaknya-1

JAKARTA semrawut Perbankan masih berkomitmen jadi menyalurkan pendanaan untuk menunjang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Meskipun, penyaluran kredit per April 2021 masih mengalam kontraksi sebesar dua, 28%.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Fadhil Hasan mengatakan, faktor utama penyebab rendahnya pertumbuhan kredit adalah masih terbatasnya permintaan masyarakat, dalam tengah pandemi. Sehingga, biar likuiditas perbankan relatif longgar, perbankan tidak serta-merta bisa memangkas suku bunga pinjaman.

Baca Juga:   KUR Tanpa Jaminan Naik Jadi Rp100 Juta dengan Bunga 3%, Berikut Rinciannya

Padahal, lantaran sisi stabilitas sistem keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) relatif mampu menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi pelaku industri perbankan. Tersedia sejumlah kebijakan yang dijalankanya sepertii restrukturisasi kredit, subsidi bunga pinjaman, kredit modal kerja baru, maupun metode pengawasan lainnya.

Fadhil menambahkan, saat itu kondisi perbankan secara nasional, masih cukup aman. Nalar kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) semenjak Maret 2021 tetap mulia di level 24, 05% sedangkan rasio kredit problematis Non Performing Loan (NPL) tetap rendah, yakni 3, 17% (bruto) dan satu, 02% (netto).

Baca Juga:   Erick Thohir: 80% Pengaruh BRI Harus untuk UMKM

“Dari sisi iklim usaha, dalam mana OJK sangat berperan dalam hal ini, sudah cukup baik khususnya di kalangan industri perbankan, tetapi ini masalah permintaan kelompok yang belum signifikan meningkat, sehingga dunia usaha serupa masih menahan ekspansi usaha, ” ujarnya dalam keteranganya, Jumat (28/5/2021).

Namun, meski iklim ataupun kondisi sektor keuangan tetap, perbankan tetap akan menetapkan suku bunga kredit sesuai dengan mekanisme pasar. Jadi tidak ada jalan asing, selain mempercepat upaya pemulihan ekonomi, sehingga permintaan klub meningkat dan pendapatan dunia usaha ikut naik.