Rencana Penyederhanaan Tarif Cukai Rokok Harus Adil

rencana-penyederhanaan-tarif-cukai-rokok-harus-adil-1

JAKARTA – Rencana penyederhanaan (simplifikasi) tarif tol rokok menjelma pembahasan publik. Tarik-ulur pemberlakuan aturan cukai hasil tembakau (CHT) menunjukkan tak ADA roadmap yang jelas terhadap industri hasil tembakau (IHT).

”Seharusnya negeri orientasi kembali pada tujuan dari pengenaan cukai cerutu. Simplifikasi jangan sampai menyambut perusahaan rokok kecil, apalagi berdampak negatif pada petani dan konsumen, ” kata Direktur Celios (Center of Economic and Law Studies), Bhima Yudhistira, Selasa (15/6/2021).

Menurut Bhima, simplifikasi tarif cukai rokok sepantasnya mempertimbangkan serapan tenaga kegiatan yang beralih ke mesin, maupun perusahaan besar selain manual juga mesin.

Baca Selalu:   Jangan Terlalu Melimpah, Harga Rokok Perlu Diawasi

”Rencana simplifikasi layer penggabungan volume produksi SKM dan SPM itu tidak fair. Meskipun sama-sama diproduksi menggunakan mesin, namun keduanya berbeda. Dengan satu rokok kretek, yang lainnya rokok putih, ” jelasnya.

Kebijaksanaan simplifikasi dinilai Bhima bisa berdampak pada tutupnya pabrik rokok, khususnya pabrikan mungil dan menengah sehingga peresapan komoditas tembakau dan cengkeh menjadi terancam.

Baca Juga:   Cukai Rokok Kretek Tidak Naik, Harusnya untuk Semua Produk Bu Sri Mulyani

Bhima menambahkan, banyak perusahaan gembung menurunkan produksinya agar tidak masuk dalam kategori golongan pertama atau tarif paling mahal. ”Ini juga tidak fair, karena perusahaan besar akan tetapi ikut bayar pajaknya yang kecil, ” tegas Bhima.

Saat itu, pemerintah mengenakan tarif tol rokok berdasarkan struktur beban yang terdiri dari 10 strata. Secara umum, penggolongan golongan struktur tarif cukai dibagi ke dalam tiga jenis: sigaret kretek pesawat (SKM), sigaret putih instrumen (SPM), dan sigaret kretek tangan (SKT)/sigaret putih tangan (SPT).

Di dalam golongan SKM dan SPM, terdapat 3 layer bayaran berbeda sesuai jumlah produksi dan nilai harga jual eceran, sedangkan dalam golongan SKT/SPT terdapat 4 layer tarif berbeda. Dalam SKM dan SPM, pembagian golongan diatur dengan jumlah produksi per tahun.