Kacau Pengangguran Meningkat, Pengusaha Minta Bunga Stimulus

Kacau Pengangguran Meningkat, Pengusaha Minta Bunga Stimulus

JAKARTA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengaku khawatir akan adanya peningkatan angka pengangguran. Apalagi, bila para kegiatan usaha tidak berlaku karena belum jelasnya kapan pandemi virus Corona akan berakhir.

Ketua Umum Zona Dagang dan Industri (Kadin) Rosan P Roeslani mengatakan, memang negeri sudah memberikan beberapa stimulus fiskal dan moneter. Namun, bantuan ini belum cukup untuk membantu para pengusaha.

  Baca juga: 6 Juta Karyawan Dirumahkan & Kena PHK Imbas Covid-19, Tersebut Kata Pengusaha

“Salah satu yang kami harapkan dari pemerintah, adalah bantuan lantaran segi likuiditas, misalnya melalui pihak perbankan, karena 80% sektor keuangan ada di perbankan, ” ujarnya dalam live conference IDX Channel di Jakarta, Jumat (29/5/2020).

Rosan berharap negeri memberikan ijeksi kepada pemerintah secara memberikan modal kerja. Apalagi situasi saat ini pengusaha kesulitan di hal keuangan karena ditutupnya kegiatan masyarakat.

  Baca juga: New Normal, Mendag Sebut Mal Tetap Dibuka Juni

“Kami berharap ada injeksi dari perbankan, terutama memberikan modal kerja atau capex, ” ucap Rosan.

Menurut Rosan, kebijakan penyelamatan stimulus ini memang harus melalui sektor perbankan. Negara lain semacam Singapura sudah melakukan penjaminan sejak pemerintah sebesar 80-90% untuk pangkal kerja baru karena banyak sektor dunia usaha yang perlu modal untuk memulai kembali.

“Kami sudah sampaikan rencana ini ke pemerintah dan departemen terkait, ada liquidity dan credit risk yang harus diapproach pemerintah lewat perbankan. Penjaminan ini tidak semuanya dalam bentuk likuiditas. Tapi, saat ini bank-bank masih berperan merestrukturisasi NPL, ” jelas Rosan.

Untuk kira-kira UMKM dan perusahaan, ada yang sudah meminta restrukturisasi ke perbankan di level 25-30% dari total lending. Dirinya mengaku hingga masa ini masih berkomunikasi secara sungguh-sungguh dengan kementerian terkait, namun sejauh ini masih berada pada review bertahap, sehingga belum ada kepastian kapan skema ini akan dijalankan.

“Dalam mendatangi new normal ini, PSBB tidak bisa terus-terusan, perlu ada pelonggaran. Yang penting timing nya PSBB dan protokol Covid-19 yang dikerjakan secara ketat dengan evaluasi tetap. Kami dari dunia usaha mempersiapkan diri untuk new normal, akan tetapi pastinya ada tahapan-tahapan yang kudu kami lakukan, ” jelas Rosan.

(rzy)

Loading…