Jokowi Seriusi Tanaman Porang, Sasaran Masa Depan hingga Prospek Bisnis Petani Milenial

jokowi-seriusi-tanaman-porang-makanan-masa-depan-hingga-prospek-bisnis-petani-milenial-1

JAKARTA – Presiden Joko Widodo optimis hasil olahan tanaman porang bisa mempunyai prospek yang cerah pada masa depan. Jokowi menodong pihak Kementerian Pertanian (Kementan) untuk serius dalam menggarap dan mengembangkan salah satu komoditas pertanian tersebut.

“Dan saya tadi menyampaikan kepada Mentan untuk betul-betul kita seriusi barang baru, komoditas porang, ” ungkap Jokowi ketika mengunjungi Pabrik Pengolahan Porang PT Asia Prima di Kabupaten Madiun, Jawa Timur kira-kira waktu lalu seperti dilansir VOA Nusantara , Jakarta, Minggu (22/8/2021).

Mengucapkan Juga: Tinjau Pabrik Porang, Jokowi: Kita Bakal Seriusi Komoditas Baru

 

Porang (Amorphopallus muelleri blume) merupakan flora jenis umbi-umbian yang menyimpan karbohidrat glukomanan atau maujud gula dalam bentuk pelik.

Jokowi memperhitungkan jenis olahan porang tersebut akan banyak diminati asosiasi karena sehat. Maka dari itu, katanya, porang akan bisa menjadi makanan penting di masa yang akan datang sebagai pengganti padi.

“Pasarnya pula masih terbuka lebar, & kita tahu porang tersebut akan menjadi makanan era depan, karena low calories, low karbo dan rendah kadar gula. Saya taksir ini bisa menjadi sasaran sehat ke depan, ” jelasnya.

Selain sehat, komoditas tersebut berkualitas ekonomis sehingga dapat membangun meningkatkan kesejahteraan petani. Bohlam satu hektare untuk flora porang ini, kata Jokowi, bisa menghasilkan 15-20 ton dalam kurun waktu musim tanam delapan bulan. Pundi-pundi rupiah yang dihasilkan invalid lebih mencapai Rp40 juta.

Jokowi pula berpesan kepada para petani untuk bisa mengolah porang ini dengan baik, jadi nilai tambah yang dihasilkan bisa dikerjakan di dalam negeri, baik dalam wujud barang setengah jadi maupun barang jadi. Menurut Pemimpin, hal ini bisa berpengaruh kepada segala sektor salah satunya bisa dari bagian penambahan lapangan pekerjaan di dalam negeri.

“Saya kira proses-proses laksana itu yang pemerintah inginkan. Jangan sampai nanti dengan mengolah itu di Jepang, atau di China, Korea Selatan atau di Eropa. Nggak, kita harus berkelakuan sendiri, ada hilirisasi, industrialisasi, sehingga nilai tambah banget ada di dalam kampung, ” tuturnya.