5 Strategi Pembiayaan APBN 2020 dalam Tengah Pandemi Virus Corona

5 Strategi Pembiayaan APBN 2020 dalam Tengah Pandemi Virus Corona

JAKARTA – Direktur Desain dan Portofolio Pembiayaan Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Riko Amir mengatakan bahwa ada lima langkah yang akan dilakukan sebagai kebijakan strategi pembiayaan tahun 2020 dan di tengah pandemi Covid-19.

Pertama adalah optimalisasi sumber pembiayaan non utang. Hal tersebut dilakukan dengan pemanfaatan Sisa Anggaran Lebih (SAL) pada tahun 2020 ini sebesar Rp 70, 64 triliun, congkong dana abadi pemerintah serta persediaan yang bersumber dari Badan Layanan Umum (BLU).

“Dana-dana ini yang akan kita lihat bersama teman-teman di internal Departemen Keuangan bersama DJA, DJKN & DJPB, (dana) mana yang mampu dilakukan untuk optimalisasi, ” benar Riko seperti dikutip laman formal Kementerian Keuangan, Jakarta, Sabtu (9/5/2020).

Baca Serupa: Pemerintah Batal terbitkan Pandemic Bond, Kenapa?

Kelakuan yang kedua adalah fleksibilitas pinjaman tunai. Hal ini dilakukan menggunakan upsize pinjaman program yang tersedia saat ini dari development partners baik bilateral maupun multirateral, di antaranya adalah dengan Bank Dunia, ADB, AFD, KfW, JICA, EDCF dan AIIB.

Riko memberikan catatan bahwa upsize pinjaman program inipun tidak bisa dilakukan semena-mena atau menaikkan setinggi-tingginya sebab ada cyling (batas atas) dengan harus dipatuhi baik secara tahunan maupun jangka menengah dari masing-masing development partners, sehingga pinjaman tunai ini bersifat fleksibel namun langgeng terukur.

Jadi langkah ketiga, Riko Amir mengutarakan bahwa Pemerintah akan melakukan fleksibilitas dalam penambahan Surat Berharga Negara (SBN). Langkah ini dilakukan secara cara upsize penerbitan SBN domestic dan SBN valas dengan langgeng memperhatikan kondisi pasar keuangan. Lalu, Pemerintah juga akan membuka kesempatan permintaan private placement dari BUMN/Lembaga Aset seperti LPS, BPKH dan lainnya.

Membaca Juga: Terbitkan 3 Seri SBN, Sri Mulyani: Ini USD Bond Terbesar dalam Sejarah Indonesia

Riko mengatakan kalau dalam melakukan upsize SBN valas, harus dilihat dan dipertimbangkan opportunity atau window-nya sehingga bisa lebih cermat.

Bagian keempat yang akan dilakukan merupakan mengutamakan penerbitan SBN domestik menggunakan mekanisme pasar (termasuk secara ritel).

“Kalau pada kondisi normal, kita berhenti dalam langkah ke-empat. Namun dengan situasi COVID-19 ini maka ada sumber back up terakhir yaitu bagian kelima dukungan Bank Indonesia. Siap (dukungan) Bank Indonesia akan mengakar ketika langkah satu sampai 4 sudah kita lakukan, dan kita lakukan secara terukur, ” tambah Riko.

Loading…