4 Tantangan Industri Asuransi, Kebanyakan Peristiwa Bikin Trauma Masyarakat

4 Tantangan Industri Asuransi, Kebanyakan Peristiwa Bikin Trauma Masyarakat

JAKARTA – Porsi aset industri asuransi terhadap aset sektor keuangan masih di bawah 10%. Padahal jumlah perusahaan asuransi (konvensional) mencapai 139. Komposisi portofolio asuransi rohani konvensional didominasi pada saham serta reksa dana masing-masing sekitar 25% dan 33%.

“Hal ini relatif lebih riskan, dipadankan dengan komposisi pada asuransi baik. Sekitar 53% dari portofolio asuransi sosial ditempatkan pada obligasi negeri, ” kata Pengamat Ekonomi Aviliani di Jakarta, Jumat (24/7/2020).

Iklim keuangan asuransi jiwa cenderung meluncur. Nilai aset turun 7% di Maret dibandingkan bulan sebelumnya. Serupa itu juga investasi, turun sekitar 9%. Nilai investasi di saham serta reksa dana turun 16% dan 11%.

Membaca juga: OJK Sebut Baru 25 Perusahaan Asuransi yang Miliki Penasihat Kepatuhan

Sementara itu utang naik 2%. Pada Maret, perusahaan asuransi sukma rugi Rp4, 3 triliun. Pendapatan premi masih mencetak angka tentu Rp40 triliun sedangkan investasi loss hingga Rp43 triliun. Beban per Maret melonjak 40% (mom) apalagi pada Desember-Maret, asuransi jiwa menderita.

Dari kondisi pada atas, Aviliani memaparkan ada 4 tantangan industri asuransi di Nusantara. Pertama, masih relatif rendahnya kepercayaan masyarakat. Indonesia memiliki jumlah penduduk besar dan kelas menengah. Namun, penetrasi asuransi cukup rendah. Hal ini karena kepercayaan masyarakat belum tinggi.

Kedua, maraknya kasus. Beberapa kasus industri asuransi melibatkan perusahaan-perusahaan besar. “Sehingga situasi ini berpotensi menyebabkan trauma untuk masyarakat, ” ujar dia.

Baca juga: Kongsi Asuransi Kena Sanksi bila Tak Punya Direktur Kepatuhan

Ketiga, kualitas sumber daya manusia (SDM). Agen perusahaan asuransi harus mampu menjelaskan skim-skim asuransi, baik dari benefit maupun risikonya secara sederhana. Menurut Aviliani, semasa ini, yang disampaikan lebih kepada benefit, sedangkan risikonya ditutup-tutupi.

Keempat, kesempatan investasi. Asuransi bukan hanya menyediakan skim kesehatan tubuh maupun jiwa tetapi juga untuk investasi. Maka dari itu, sepantasnya masyarakat perlu disosialisasikan lebih sendat apa saja benefit yang diperoleh dari berasuransi.

(kmj)

Loading…